Rabu, 14 Desember 2011

Hal "Kecil" Yang Bisa Bikin Kita Ditinggal Customer

Seringkali kita menganggap remeh - temeh hal ini. Padahal hal satu ini bukan hanya penting tapi juga vital. Dia adalah: Toilet. Seperti apa ulasannya? Ini dia...

Toilet mungkin saja menjadi ruangan yang paling sering diabaikan oleh kita. Meski selalu berada di ruang belakang, toilet sungguh bukan saja penting dan merupakan bagian tak terpisahkan dari  layanan kita terhadap customer, tapi toilet juga merupakan hal mendesak yang tidak bisa lagi ditunda keberadaannya, tepat ketika dibutuhkan. Karena itu jangan kaget,. Baru - baru ini di Puncak Pertemuan Toilet Dunia (World Toilet Summit) yang baru saja selesai (diselenggarakan di China) menghasilkan sebuah fakta bahwa untuk meningkatkan kunjungan turis di sebuah negara,sangat terkait dengan ketersediaan toilet publik yang bukan hanya layak tapi juga bersih. Kampanye dan iklan yang agresif tidak akan menghasilkan apa – apa jika tidak dibarengi dengan ketersediaan toilet yang layak untuk menarik lebih banyak pengunjung yang datang. Kesan pemandangan dan wisata yang indah akan lenyap seketika begitu mendapati toilet yang jorok, tidak terawat, bayar pula. Data dari pertemuan tersebut menunjukkan ada kenaikan sebesar 10% dari total kunjungan turis di China setelah negara tersebut memperbaiki fasilitas umumnya seperti toilet, dan mendongkrak negara tersebut menjadi negara yang paling banyak dikunjungi di dunia setelah Perancis dan Amerika. Indonesia sendiri, masih tertinggal dan menduduki peringkat ke 3 dengan pelayanan toilet terburuk di Asia :D 

Mindset kita tentang toilet 

Jamak kita dapati fasilitas “penting dan mendesak” ini terlantar begitu saja. Semasa sekolah dulu, hal yang paling saya tidak suka adalah “kebelet” ketika sedang jam pelajaran sekolah. Alasannya adalah toilet sekolah yang sangat sangat tidak layak. Begitupun kita dapati di terminal atau area publik lainnya di sekitar kita. Toilet begitu identik dengan bau menyengat, jorok, mampet dan rasa jijik. Yang lebih parah tentunya jika kita mendapati toilet kotor di kantor dan tempat ibadah seperti Masjid. Oh No! Harusnya tidak. Di luar negeri sana di negeri maju, apalagi di airport-nya, toilet dibersihkan dan diperlakukan sama seperti tempat tidur. Wangi, kering, dan selalu siap pakai. 
Karena itu sepertinya harus ada mindset baru dalam benak kita bahwa toilet itu tempatnya bersih – bersih sehingga harus kita persepsikan sebagai tempat yang bersih. Dan sayang sekali, sedikit orang yang peduli akan hal ini. Kebersihan dan kelayakan toilet masih dipandang sebagai hal yang kurang penting. Tak jarang di beberapa rumah makan, atau mall sekalipun, kita harus puas dengan kualitas toilet yang cukup membuat kita menahan rasa lapar . Padahal, jika kita sendiri tidak happy dengan toilet kotor di restoran atau toko tempat kita berbelanja atau makan, hal yang sama juga berlaku bagi customer kita. Lebih lagi jika usaha kita di bidang makanan. 

Nah logikanya, jika untuk meningkatkan turisme saja perlu disarankan menyediakan toilet yang layak dan bersih sebagai penarik, bukankah hal yang sama bisa kita lakukan di bisnis kita? 


Salam toilet bersih 



Lutfiel 
www.bebiluck.com

Read More......

Rabu, 07 Desember 2011

Rahasia Pentingya Identitas

Jika anda pernah datang di sebuah sesi coaching ActionCoach, pasti anda tahu rumus ini: Be+ Do= Have.

Have (kepemilikan) diartikan sebagai result atau hasil, atau apa yang ingin kita peroleh (bisa kebebasan waktu atau finansial)
Do (action) diartikan sebagai tindakan tertentu untuk mencapai hasil tadi
Be (being) diartikan sebagai skill dan nilai diri (self value) yang jika digabung atau dikalikan dengan action akan mempercepat hasil
Menurut Coach, banyak orang yang hanya mengandalkan Do untuk mencapai Have. Mereka bekerja demikian keras dan demikian mati-matian, tapi tidak pernah mengevaluasi hasil. Bukan kerja cerdas. Padahal jika kerja keras tersebut diimbangi dengan nilai (seperti jujur, tekun, ulet, sabar dst) hasilnya bukan saja lebih bagus, tapi lebih cepat. 
Termasuk dalam "Be" ini adalah identitas. Jadi saya diminta untuk menjawab sendiri pertanyaan ini: "Siapa saya?" 
Jawaban dari pertanyaan itu adalah identitas saya. Sayapun kecele, keliru menjawab. Jawaban saya waktu itu adalah English Teacher. Secara keinginan saya ketika ditanya adalah menjadi seorang number one education franchisor di Indonesia, punya gedung 5 lantai sendiri di Sudirman, punya ini punya itu, tetapi ketika ditanya pertanyaan seputar diri saya,jawaban saya adalah "An english teacher". Lucu, mana ada seorang english teacher, dengan alokasi waktu mengajar yang jarang, akan punya gedung lima lantai dan jadi No 1 Franchisor? Hehe. 
Setelah diurai, ternyata penyebabnya adalah ketidaksinkronan antara "dream" atau keinginan kita, dengan identitas yang kita buat sendiri dan yakini. Orang di luar sana (yang punya dana atau yang siap membeli produk) hanya akan membeli produk dari orang yang tepat, yang memang ahlinya. Kalau hanya seorang English teacher, tidak mungkin seorang rela menginvestasikan ratusan juta untuk diserahkan bisnis kursus yang besar. Demikian kira - kira kesimpulannya. 
Nah bagaimana dengan anda? apa identitas yang akan anda jual kepada klien? Sudah sinkron-kah dengan impian-impian anda? Sudah sesuaikan jabatan di kartu nama anda dengan cita - cita? 





Salam identitas, 




 
Lutfiel Hakim 
Tukang Bubur Bayi 
Tukang Kursus juga 
www.bebiluck.com

Read More......

Selasa, 29 November 2011

Menjaga Dian Tetap Menyala

Dalam senang hitunglah kesyukuranmu, dalam susah awasi kealpaanmu (Nasyid Hijaz)
Ssukses – gagal, adalah keniscayaan yang tidak perlu dikhawatirkan datangnya. Bob Sadino konon mentertawakan jika ada pewawancara yang bertanya kepada beliau “apakah anda pernah gagal”? “pertanyaan yang lucu”, kata pria yang sering disebut akrab dengan Om Bob. Lucu karena gagal adalah bagian dari sebuah usaha, bukan lagi perencanaan sehingga kita harus menghindari yang begini dan begitu. Kalau gagal sendiri sudah merupakan bagian dari usaha, sukses pun demikian adanya. Tunggu saja saatnya anda sukses, yang penting jangan berhenti berjalan dan berjualan dan memperbaiki diri.
 Yang membedakan adalah cara orang menyikapinya. Ada yang gagal lalu terpuruk seolah habis hidupnya, dan ada yang sukses lalu malah semakin sukses. Ada pula yang gagal tapi langsung belajar lalu bekerja lagi, dan ada pula yang sukses lalu puas seolah misi selesai, tidak ada yang perlu dikerjakan.
Akibat dari sikap tadi sungguh berbeda. Coba kita lihat:
1.    Gagal lalu terpuruk berputus harapan seolah tiada guna bertahan hidup. Sikap yang begini jelas dimiliki seorang pecundang bermental kertas. Mudah layu diterpa angin,apalagi badai. Laksana asap, sekali tiup oleh angin lemah bergoyang, lalu hilang tak berbekas. Keterpurukan makin menjadi.
2.    Sukses lalu semakin sukses. Sikap ini adalah sikap terbaik. Kebersyukuran justru dimaknai dengan mendayagunakan tenaga dan fikirannya ke alam tak berbatas. Terus melaju menuju pencapaian – pencapaian gemilang berikutnya. Seperti kata mendiang Steve Jobs : Stay foolish, stay hungry. Sikap ini biasanya dimulai dari sikap mau belajar dan masih merasa perlu melakukan banyak hal. Selalu ada tantangan dan panggilan untuk berbuat yang terbaik dan terus begitu. Istilah lainnya adalah selalu merasa “on mission”. Hidup menjadi sangat bermanfaat untuk dirinya dan orang di sekitarnya.
3.    Gagal lalu belajar. Ini juga sikap terbaik. Kegagalan yang disikapi dengan arif malah sering menjadi pemicu sukses yang lebih hebat dan terasa lebih nikmat. Sikap ini biasanya dimulai dari sikap optimis, dan berfikir positif disertai tindakan yang mengarah ke perbaikan. Prinsipnya, ada seribu kesempatan kedua yang menunggu di depan. Jadi gagal hanyalah 1 dari 2 pembelajaran dimana pembelajaran 1 nya bernama sukses.
4.    Sukses lalu merasa puas misi selesai. Sering kita terjebak,setelah melakukan pencapaian, justru tenaga mengendur berharap segalanya jadi lebih santai setelah “merasa bekerja keras”. Padahal ketika kita masuk ke zona nyaman, berarti tanda kita harus bersiap menantang diri sendiri untuk berbuat yang lebih dari sekedar menjadi bagus, jika menjadi lebih bagus atau paling bagus itu mungkin. Good is not enough, if better is possible. Sebaliknya, berhenti berbuat berarti bersiap untuk mati.
Nah sekarang saya tahu, sukses dan gagal ternyata ilmu pasti. Bukan lagi kira – kira. Sukses dan gagal juga siklus, perputaran, dan 2 mata pisau yang bisa digunakan untuk memotong daging yang akan dimasak, atau melukai jari jika lengah. Sikap yang tepat dalam menghadapi keduanya akan memastikan arah yang tepat menuju impian, sekaligus Menjaga Dian (semangat) Tetap Menyala.

Salam sukses,



Lutfiel
www.bebiluck.com

Read More......

Time is Clock

Follow Twitter Bisnis Saya

Twitter Saya